Repair Win 7 Kado Pernikahan Tabahkan aku Kabhialvida na kehna Kepiting Pedas Anxietas Dawai Asmara XP Repair SFilm Veer Zaara

Rabu, 11 Januari 2012

Syukur di Kala Meraih Sukses


Di kala impian belum terwujud, kita selalu banyak memohon dan terus bersabar menantinya. Namun di kala impian sukses tercapai, kadang kita malah lupa daratan dan melupakan Yang Di Atas yang telah memberikan berbagai kenikmatan. Oleh karenanya, apa kiat ketika kita telah mencapai hasil yang kita idam-idamkan? Itulah yang sedikit akan kami kupas dalam tulisan sederhana  ini.

Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya
Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala,
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya,
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)
Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,
“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)
Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa.
 [1] Ucapkanlah “Tahmid”
Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami’ no. 3014).
Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do’a beliau ketika itu,
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).
Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).”[2]
Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela.[3]
Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan
Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat.
Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan,
“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”[4]
Mukhollad bin Al Husain mengatakan,
“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.”[5]
Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1]  mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.”[6]
Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri
Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)
Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)
Dan juga mesti kita yakini bahwa rizki yang Allah beri tersebut adalah yang terbaik bagi kita karena seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’alaberfirman,
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[7]
Patut diingat pula bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini.[8]
Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur
Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)
Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

Selasa, 10 Januari 2012

Kado Pernikahan Bab 5

Kado Pernikahan 62

Antara Menyegerakan dan Tergesah-gesah

Rasulullah menasehatkan:
"Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa
padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak
dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa
kepadamu dan mereka membenarkannya."


alah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Begitu Islam
mengajarkan. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah mencapai
ba'ah adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap
dengannya. Ia mendatangi orangtua wanita tersebut dengan  menjaga adab sambil
membersihkan niat.
Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:
Khath Arab
"Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah,
maka tidaklah ia termasuk golonganku." (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).
1

Nabi kita juga mengingatkan, "Bukan termasuk golonganku orang yang merasa
khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah."
(HR Ath-Thabrani).
Sedang menyegerakan nikah bagi keluarga wanita adalah dengan mempercepat
pelaksanaan jika tidak ada kesulitan yang menghalangi. Juga, menyederhanakan
proses agar tidak membebani kedua mempelai. Mudah-mudahan mereka akan
S S   Kado Pernikahan 63
mendapatkan rumah tangga yang  barakah dan diridhai Allah, keluarga yang di
dalamnya terdapat anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat  laa
ilaaha illaLlah. 
Menyegerakan nikah insya-Allah lebih  dekat kepada pertolongan Allah dan
syafa'at Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah akan menyempurnakan
setengah agama kita kalau kita menyegerakan menikah. Insya-Allah, kita akan
mendapati pernikahan yang  barakah. Sebuah pernikahan yang  barakah akan
menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya tenteram dan saling memberi manfaat.
Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hidup yang sia-sia. Seorang
pemalas akan menjadi rajin,  seorang peragu akan memperoleh yakin, dan seorang
yang bimbang akan memperoleh keteguhan.
Nikah adalah satu di antara tiga perkara yang sunnah untuk disegerakan. Allah
akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang
menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya-Allah
akan mendapati rahmat dan  perlindungan Allah kelak di  yaumil-hisab. Sebab,
sesungguhnya perbuatan menyegerakan nikah merupakan perkara yang disunnahkan
oleh Rasulullah. Dan setiap perkara yang disunnahkan, adalah tindakan yang diridhai
dan dicintai Allah. 
Wallahu A'lam bishawab.
Akan tetapi, di dalam setiap perbuatan, setan berusaha untuk menggelincirkan
manusia. Jika orang tidak mau melakukan kemaksiatan, setan berusaha untuk
menggelincirkan manusia dengan menampakkan apa-apa yang sepintas mirip dengan
perkara yang disunnahkan.
Banyak contoh tentang ini. Agama menganjurkan kita untuk syukur nikmat,
mengabarkan dan menampak-nampakkan nikmat yang kita peroleh demi
mengagungkan kemurahan Allah. Dan setan berusaha  untuk menyimpangkan niat
kita, sehingga kita menampak-nampakkan bukan dalam rangka syukur nikmat, tetapi
dalam rangka   riya' dan   sum'ah.  Jika  riya' adalah tindakan yang dilakukan dengan
harapan orang melihat kebaikan yang ada pada diri kita, sum'ah adalah tindakan agar
orang mendengarkan keunggulan kita.
Kadang orang bersikap merendah karena  tawadhu', tetapi orang bisa merendah
dalam rangka meninggikan diri di hadapan orang lain. Yang pertama, adalah
kemuliaan akhlak yang sering dianjurkan agama. Yang kedua, adalah rekayasa kesan
agar tampak sebagai orang yang memiliki kedalaman pemahaman agama.
Masih banyak yang lain. Hanya saja, kita sering tidak tahu bahwa yang ada pada
hati kita bukanlah sebagaimana yang diharapkan oleh agama. Bisa jadi, kita mampu
menunjukkan argumentasi  (hujjah) atas apa yang kita lakukan. Kita berargumentasi
melalui kekuatan nalar dan lisan yang dikaruniakan kepada kita, akan tetapi hati kita
mengingkari. Sayangnya, kita pun sering tidak tahu bahwa hati kita mengingkari
disebabkan pekatnya penghalang mata hati kita untuk melihat beningnya kebenaran. Kado Pernikahan 64
Perkara nikah juga demikian. Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan.
Meskipun demikian, kita bisa  jadi terjatuh pada tindakan  tergesa-gesa. Bersegera,
akan mendekatkan orang kepada saat menikah. Penantian yang telah melewati
berpuluh-puluh malam, insya-Allah segera terbayarkan dengan akad nikah yang
dalam waktu dekat akan terlaksana. Sementara itu,   tergesa-gesa bisa jadi justru
menjadikan tibanya saat akad nikah harus melalui waktu yang lama.
Ada perbedaan yang jauh antara pernikahan yang disegerakan dengan pernikahan
yang dilaksanakan secara tergesa-gesa.  Waktu yang dibutuhkan dari peminangan
sampai akad nikah bisa jadi sama. Tetapi, suasana yang terbawa dalam rumahtangga
sangat berbeda.
Pernikahan yang disegerakan insya-Allah penuh barakah dan diridhai Allah. Di
dalamnya, Allah mencurahkan perasaan sakinah kepada suami-istri tersebut. Bahkan,
suasana sakinah juga terasakan oleh seisi rumah, sanak famili yang mengetahui, serta
orangtua dari keduanya, kecuali bagi  mereka yang sedang merasakan kekeruhan
dalam jiwanya.
Tapi, apakah sakinah itu? Wallahu A'lam. Sepanjang pengetahuan saya, sakinah
adalah ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan terbebasnya diri dari keinginan-
keinginan yang dilarang, sebab sesuatu yang  dilarang akan menimbulkan kegelisahan
dan kecemasan. Mereka juga tidak begitu terganggu oleh  penilaian-penilaian sesaat
dari masyarakat, sebab mereka menyandarkan penilaian kepada sumber yang jernih
dalam soal-soal yang diatur dan mendasarkan pada kesepakatan dan kecintaan berdua
dalam soal-soal yang dilapangkan (mubah) bagi kita. Mereka mungkin akan
melakukan apa yang secara sosial diharapkan,  tetapi itu bukan karena terdesak oleh
tekanan norma sosial semata. Melainkan menurut pertimbangan kemaslahatan.
Mereka mungkin akan menolak apa yang diharapkan secara sosial, tetapi itu bukan
karena ingin menentang tatanan. Tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
berkenaan dengan madharat dan mafsadah.
Apa pengaruh sakinah bagi suami-istri yang baru memasuki jenjang pernikahan?
Apakah makna  sakinah dalam membina kehidupan berumahtangga, mendidik anak,
dan menetapkan misi setelah mereka mempunyai anak dari pernikahan mereka?
Sayang sekali kita tidak bisa membahas saat ini. Mudah-mudahan Allah  memberikan
petunjuk, ilmu, dan kekuatan pada saya untuk membahasnya di waktu lain dalam
kesempatan yang lebih baik. Saat ini, cukuplah saya katakan bahwa  sakinah
menguatkan ikatan perasaan antara suami  dan istri dengan jalinan perasaan yang
diliputi oleh kerinduan yang menenteramkan saat tidak bertemu dan ketenangan yang
menyejukkan saat berjumpa.  Sakinah menumbuhkan kelembutan dan keramahan
dalam pergaulan mereka, termasuk dalam mendidik anak kelak, serta memunculkan
optimisme dan kekuatan jiwa ketika menghadapi masalah sehingga mereka tidak
lebih tua dari usianya.
Bagaimana suasana keluarga yang  sakinah? Sayang sekali saya belum bisa
menggambarkan. Hanya saja, diam-diam saya kadang terkesan ketika menjumpai
hadis yang mengabarkan sebagian tandanya. Kado Pernikahan 65
"Akan lebih sempurna ketakwaan seorang mukmin," kata Rasulullah Saw., "jika
ia mempunyai seorang istri yang shalihah,  jika diperintah suaminya ia patuh, jika
dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah
membuatnya merasa adil, jika suaminya  pergi ia akan menjaga dirinya dan harta
suaminya."
"Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw. menunjukkan,
"adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu
pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;
kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi;  dan rumah yang
damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri
yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga
tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga
kehormatan diri dan hartamu; kendaraan  rusak yang jika dipakai hanya membuatmu
lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang
sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya."
Kita cukupkan pembicaraan sekilas tentang  sakinah. Kita kembali lagi kepada
pembahasan kita mengenai pernikahan  yang disegerakan dan pernikahan yang
tergesa-gesa.
Jika pernikahan yang disegerakan lebih dekat kepada kemaslahatan dan barakah,
maka pernikahan yang tergesa-gesa lebih dekat kepada kegersangan dan kekecewaan.
Pernikahan yang tergesa-gesa mendatangkan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ia
mendapati istrinya menyusahkan dan membuatnya cepat beruban sebelum waktunya
(he hmm, tapi bukan cepat beruban karena minyak rambut).
Saya teringat kepada penghujung do'a Nabi Daud  'alaihissalam, "Ya Allah, ...
Hindarkanlah saya dari anak-anak yang durhaka terhadap orangtuanya; harta yang
jadi bencana bagi saya maupun orang lain; tetangga yang buruk sifatnya, yaitu jika
melihat kebaikan pada saya difitnahnya dan jika melihat keburukan
disebarluaskannya, dan istri yang menyusahkan, membuat saya beruban sebelum
waktunya."
Jika pernikahan yang  barakah membuat rumah terasa damai dan penuh kasih
sayang, pernikahan yang tidak  barakah mengakibatkan rumah terasa sempit dan
orang tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Ukuran fisiknya barangkali luas,
bahkan jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada kelapangan di dalamnya.
Betapa bedanya antara luas dan lapang.
Pernikahan yang barakah insya-Allah akan kita dapati ketika kita menyegerakan
nikah. Tetapi, pernikahan yang dilakukan  tergesa-gesa justru bisa melahirkan
kehampaan, kecuali kalau Allah menolong kita mengambil  jarak dari keadaan kita
sendiri, melakukan introspeksi yang teliti dan berhati-hati dalam menilai masalah.
Selanjutnya, mudah-mudahan  kita bisa menjaga lisan  (hifdhul-lisan) dari menga-
takan apa-apa yang tidak baik di hadapan Allah dan manusia  mengenai pasangan
hidup kita, sekalipun dia tidak tahu. Sebab ungkapan kekesalan dan kekecewaan --
apalagi sampai menutupi kebaikan yang ada padanya-- bisa menjadi do'a yang pasti Kado Pernikahan 66
dikabulkan ketika ucapan itu keluar bersamaan dengan sa'atu-nailin, yaitu saat ketika
ucapan menjadi do'a, dan do'a pada saat itu pasti terkabul.
Pembicaraan mengenai ini akan semakin panjang jika diteruskan. Cukuplah kita
akhiri dengan berdo'a, mudah-mudahan Allah mengarunia kita dengan kemuliaan dan
kebarakahan dalam keluarga kita. Semoga dari sana lahir keturunan yang memberi
bobot kepada bumi dengan kalimat  laa ilaaha illaLlah. Keturunan yang  hukma-
shabiyya rabbi radhiyyah, yang memberikan kesejukan mata dan ketenteraman jiwa
di dunia hingga kelak di hari kiamat.
Selanjutnya, mari kita lihat perbedaan  antara menyegerakan dan tergesa-gesa.
Kita akan membicarakan masalah ini melalui dua cara. Pertama, melalui tanda-tanda
hati  (mudah-mudahan Allah menjernihkan hati kita). Kedua, melalui perumpamaan
yang dapat dipikirkan oleh akal.
Tanda-tanda Hati
"Orang yang mempunyai niat yang tulus," kata Imam Ja'far Ash-Shadiq, guru
dari Imam Abu Hanifah, "adalah dia yang hatinya tenang,  terbebas dari pemikiran
mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk
Allah dalam segala perkara."
Pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang
yang datang kepada Allah dengan hati yang suci. (QS 26: 88-90).
Kalau kita menyegerakan nikah karena niat yang jernih, insya-Allah hati kita
akan merasakan  sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah
yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun  harapan dan kekhawatiran
meliputi dada. Kita merasa tenang, meskipun ada sejumlah masalah yang membebani
dan menyita perhatian.
Ketenangan dan beban masalah bukanlah dua hal yang bertentangan. Seperti
seorang ibu yang telah memiliki kematangan, kedewasaan dan kasih sayang besar
kepada anak serta pengharapan besar terhadap ridha Allah. Saat menghadapi
persalinan, ia merasakan ketenangan hati dan keyakinan. Meskipun harus melewati
perjuangan mendebarkan yang melelahkan secara fisik dan ketegangan psikis, namun
ketegangan ini bukan sejenis perasaan tidak aman.
Lain halnya dengan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan ditandai oleh perasaan tidak
aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu. Seperti berdiri di depan anjing
galak yang tidak pernah kita kenal, ada perasaan ingin untuk cepat-cepat berlari pergi
menjauhi tempat itu. Kalau berlari, takut dikejar dan terjatuh. Kalau tetap berdiri di
dekatnya, tidak ada kepastian dan ada  kekhawatiran jangan-jangan anjing itu
menggigit.
Inilah gambaran sekilas. Kalau belum jelas, bertanyalah kepada hati nuranimu.
Mintalah fatwa kepadanya. Kado Pernikahan 67
Rasulullah Saw. bersabda, 
"Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa
padanya dan tenteram pula dalam hati.  Dan dosa itu adalah  apa-apa yang syak
dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati,  walaupun orang-orang memberikan fatwa
kepadamu dan mereka membenarkannya." (HR Ahmad).
Tanda-tanda Perumpamaan
Kalau suatu saat Anda naik motor dan menjumpai tikungan tajam, apa yang
Anda lakukan? Apakah Anda akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi
kecepatan karena ingin cepat sampai? Atau, Anda mengurangi kecepatan sedikit,
menelikung dengan miring, dan sesudah berbelok baru menambah kecepatan sedikit
demi sedikit?
Jika Anda memilih yang pertama, sangat mungkin Anda terpental sendiri. Anda
terjatuh, sehingga harus berhenti sejenak  atau agak lama. Baru kemudian dapat
meneruskan perjalanan.
Keinginan Anda untuk cepat sampai di tempat tujuan dengan tidak mengurangi
kecepatan, apalagi justru dengan menambah kecepatan, tidak membuat Anda lebih
cepat sampai dengan tenang, tenteram, dan  aman. Bisa-bisa, kalau kecepatan Anda
tetap antara sebelum berbelok dengan saat-saat berbelok, Anda justru terpental.
Antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, tidak seimbang.
Jika Anda memilih yang kedua, insya-Allah Anda akan dapat sampai lebih cepat.
Awalnya memang mengurangi kecepatan,  tapi sesudah betul-betul memasuki
tikungan dengan baik, Anda bisa menambah kecepatan. Jika Anda mengurangi
kecepatan lebih banyak lagi, Anda bahkan dapat membelok tanpa harus memiringkan
badan banyak-banyak.
Jalan yang lempang adalah tamsil dari masa melajang, masa ketika masih sendiri.
Belokan adalah proses peralihan menuju status baru, menikah dan berumah tangga.
Sedang jalan berikutnya yang dilalui setelah berbelok, adalah  kehidupan keluarga
setelah menikah.
Pilihan pertama adalah sikap  tergesa-gesa untuk menikah, sedangkan pilihan
yang kedua adalah menyegerakan.
Ada perumpamaan lain. Kita melihat perumpamaan  yang dekat-dekat dengan
kita. Kalau suatu saat Anda bikin kolak kacang hijau, ada beberapa bahan yang perlu
Anda masukkan. Bahan yang paling pokok adalah kacang hijau dan  gula. Kalau
Anda memasukkan gula bersamaan dengan kacang hijau, sesudah itu segera direbus,
Anda akan mendapati kacang hijau itu tidak mau mekar. Anda  tergesa-gesa. Kalau
Anda memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar, Anda menyegerakan. Tetapi,
kalau Anda lupa tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cu-
kup lama, Anda akan kehilangan banyak zat gizi yang penting. Kado Pernikahan 68
Sampai di sini, saya kira cukup  pembahasan mengenai menyegerakan dan
tergesa-gesa. Mudah-mudahan Allah  Ta'ala memasukkan kita  ke dalam golongan
orang-orang yang menyegerakan, bukan tergesa-gesa. Semoga Allah menjadikan
pernikahan kita barakah dan diridhai Allah.
Saya memohon perlindungan kepada Allah dari penjelasan yang tidak menambah
kejelasan. Mudah-mudahan apa yang kurang  dalam tulisan ini menjadikan Anda
berhati-hati. Mudah-mudahan apa yang terang, menjadikan Anda mempunyai
keyakinan hati. Mantap dalam melangkah.
Segala Puji bagi Allah
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan banyak karunia. Dialah Yang
Awal dan Yang Akhir. Maha suci Allah dari segala persangkaan hamba-hamba-Nya.
Maha Mulia Allah yang menurunkan hujan untuk mensucikan bumi dan
menumbuhkan berbagai tanaman, baik yang berbuah,  yang berbunga maupun yang
berbuah sekaligus berbunga.
Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan dan petunjuk
kepada saya untuk menulis bab ini, sekaligus buku ini secara keseluruhan. Semoga
menjadi do'a yang baik. Menjadi sunnah hasanah yang diridhai. 

Catatan Kaki:
1.  "Ini dinisbahkan atas nama Nabi yang Nabi sama sekali terbebas dari
mengucapkan yang demikian. Ini hadis dha'if." Kata Ustadz Abdul Hakim
Abdats, "Hadis ini mursal, tabi'in langsung menyandarkan kepada nama Nabi,
jelas tidak membawa nama sahabat."

Senin, 09 Januari 2012

Kado Pernikahan Bab 4

Kado Pernikahan 54
Bab 4
Selama Proses Berlangsung
Ummul Mukminin 'Aisyah r.a. mengatakan:
"Pernikahan itu sangat sensitif
dan tergantung kepada pribadi masing-masing
untuk mendapatkan kemuliaannya."
enikah adalah kesucian. Sangat besar kemuliaan di dalamnya. Sangat
tinggi kedudukannya dalam Islam, sehingga Al-Qur'an menyebutnya
sebagai mitsaqan-ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali
kata ini disebut, dua untuk perjanjian tauhid. Maka, pernikahan yang diridhai Allah
akan dipenuhi oleh doa malaikat yang menjadi saksi pernikahan.
Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang
sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi
kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahala di sisi Allah. Pernikahan telah
mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan
manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang
melakukan pernikahan.
Namun demikian, sebelum akad ada proses. Selama proses inilah setan berusaha
memanfaatkan momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan
bergeser jauh dari makna dan tujuannya.
Proses menuju akad nikah banyak memberi pengaruh terhadap hubungan antara
suami dan istri kelak setelah menikah. Demikian juga, hubungan antara dua keluarga,
yaitu keluarga istri dan keluarga suami, banyak dipengaruhi oleh proses dari
M
Kado Pernikahan 55
peminangan hingga akad berlangsung. Persepsi dan penerimaan masing-masing
anggota keluarga, banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan qalbiyyah (hati, termasuk
niat) ketika proses sedang berlangsung. Oleh karena itu, setelah peminangan,
yang perlu kita jaga adalah segala hal yang dapat merusak makna dan tujuan
pernikahan, yang mungkin muncul selama proses berlangsung. Sebagian proses
berjalan dengan mudah dan sederhana. Sebagian harus menempuh proses yang pelik
dan rumit. Sebagian berlangsung cepat dalam waktu singkat, sebagian harus
menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Proses pernikahan manakah yang terbaik? Yang terbaik adalah yang paling
maslahat dan barakah, serta jauh dari mafsadah (kerusakan) dan bibit-bibit
kekecewaan yang menjauhkan orang dari rasa syukur. Proses pernikahan yang
mendatangkan maslahat dan barakah bisa jadi berlangsung dengan mudah, bisa pula
berlangsung melalui jalan yang pelik. Allah Maha Tahu apa yang paling maslahat
bagi Anda. Ketika hujan lebat sedang turun dan petir menggelegar sambutmenyambut,
kalau Anda tidak berhati-hati, bisa tersambar oleh petir yang nyasar.
Kalau Anda menjaga diri, istiqamah, dan tawakal, insya-Allah Anda akan mendapati
hujan sebagai pensucian bumi hati Anda. Sedang petir membawa muatan listrik yang
menerangi.
Sesungguhnya, sepanjang yang saya ketahui, salah satu pandangan Islam tentang
pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Anda
harus memperhatikan keadaan hati Anda ketika akan melaksanakan. Sebab, di sinilah
setan berusaha untuk menyimpangkan niat dan tujuan Anda. Islam menganjurkan kita
untuk menyegerakan menikah, tetapi setan bisa mengambil bentuk yang mirip ketika
kita tidak mau menunda-nunda tanpa alasan. Setan mengarahkan kita untuk bersikap
tergesa-gesa. Khusus pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa, insya-
Allah akan kita bicarakan pada bab berikutnya, Antara Menyegerakan dan Tergesagesa.
---
Kita seringkali tidak bisa membedakan,
apakah kita melakukan sesuatu
karena persangkaan kita yang baik kepada Allah
ataukah justru karena persangkaan kita
yang kurang tepat kepada-Nya.
---
Setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, masa yang sangat rawan.
Masa ini bisa menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Dengan demikian boleh
jadi ia mendapati pernikahannya kelak tidak sebagaimana harapannya, meskipun --
barangkali-- pasangan hidupnya sudah berperilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam
Kado Pernikahan 56
dan bahkan melakukan kebajikan-kebajikan dalam rumah tangga. Na'udzubillahi min
dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian.
Ada dua hal yang perlu kita jaga sejak berangkat meminang (atau, sejak
datangnya pinangan bagi seorang gadis) sampai dengan pelaksanaan akad-nikah.
Pertama, menyangkut persangkaan kita kepada Allah. Ini yang paling rawan. Kedua,
persangkaan dan persepsi kita terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup kita.
Masalah kedua ini, banyak kaitannya dengan masalah pertama. Jika masalah yang
pertama tidak baik, masalah yang kedua sangat mungkin untuk ikut tidak baik.
Persangkaan Kepada Allah
Orang yang tampak bersungguh-sungguh ketika berdoa, bisa jadi karena
keyakinannya bahwa Allah itu dekat. Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia yakin bahwa Allah memperhatikan orang yang
datang kepada-Nya untuk mengadukan keluh-kesahnya atau memohon pertolongan-
Nya. Karena kemuliaan-Nya, maka adalah kelayakan bagi manusia untuk berdoa
secara sungguh-sungguh sekaligus berhati-hati agar terjauh dari berdoa yang tidak
layak, sekalipun Allah Sangat Luas Pemberian-Nya.
Meskipun demikian, bisa jadi orang tampak sangat bersungguh-sungguh ketika
berdoa, sampai wajahnya berkerut-kerut dan ekspresinya berubah, justru karena
ketidakyakinannya. Ia mengkhusyuk-khusyukkan diri ketika berdoa, justru karena
keyakinannya yang tipis bahwa Allah Maha Mengabulkan doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia menyangatkan diri ketika memohon kepada Allah
karena khawatir keinginannya tidak tercapai, padahal ia tahu Allah Maha Besar
Kekuasaan-Nya.
Sungguh, sangat jauh perbedaan antara kesungguhan doa orang yang yakin dan
kesungguhan orang yang berdoa justru karena kurang yakin terhadap kemurahan
Allah. Orang yang sangat besar keyakinannya kepada Allah ketika berdoa bisa jadi
sampai menangis, mengingat-ingat besarnya karunia Allah dan kecilnya amanah yang
sudah ia tunaikan. Orang yang berdoa karena kurngnya keyakinan, juga bisa
menangis. Tetapi jauh sekali perbedaannya. Dan berbeda sekali persangkaannya
kepada Allah. Padahal, Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:
"Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." (HR Bukhari dan
Muslim).
Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena
persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah karena persangkaan kita yang
kurang tepat kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sering tidak bisa membedakan, kecuali
setelah mengambil jarak dari masalah itu dengan pertolongan Allah. Dan datangnya
pertolongan Allah, adakalanya sesuai dengan persangkaan kita mengenai pertolongan,
bisa pula sebaliknya, justru nampak berkebalikan dengan apa yang kita anggap
sebagai cara menolong. Sungguh, rugi orang yang menyangka pertolongan Allah
Kado Pernikahan 57
sebagai pengabaian-Nya. Semoga kita terhindar dari prasangka yang tidak diridhai-
Nya.
Pernikahan adalah salah satu amanah Allah bagi manusia yang beriman kepada-
Nya. Pernikahan adalah ketundukan kita kepada-Nya, sekalipun Allah memberi
tempat kepada perasaan-perasaan manusiawi. Justru, Allah-lah yang memberikan
perasaan-perasaan dan dorongan itu kepada manusia. Sementara itu, setan berusaha
untuk memanfaatkan momentum menjelang nikah, selama proses menuju pernikahan,
justru untuk mengangkuhkan diri seolah Allah tidak memperhatikan. Padahal tidak
ada yang bisa disembunyikan dari pengetahuan dan "penglihatan" Allah.
Pernikahan adalah amanah Allah. Dan Allah tidak pernah zalim kepada
makhluk-Nya. Tidak pernah Allah memberikan amanah kepada manusia, kecuali Ia
akan memberikan sarana untuk memenuhi amanah. Allah tidak pernah zalim. Maha
Suci Allah dari kezaliman.
Setiap amanah telah dicukupi dengan sarana yang dengan itu orang bisa
melaksanakan amanah-Nya, dalam hal ini melaksanakan pernikahan. Walaupun
demikian, manusia sering melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri maupun
kepada Allah dengan prasangka-prasangka buruk kepada-Nya. Maha Suci Allah dan
segala puji bagi-Nya yang luas ampunan dan kasih sayang-Nya.
Astaghfirullahal'adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazhzhalimin.
Masya Allah. Manusia seringkali tergesa-gesa dan penuh keluh-kesah karena
dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akalnya terhadap rahmat Allah. Ketika
membutuhkan gerimis untuk mendinginkan bumi hatinya, ia mengeluh dan kadang
bahkan cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung.
Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang melimpah, lebih dari
sekedar yang ia butuhkan. Ketika ia tidak melihat mendung, dan hanya merasakan
teriknya matahari, ia lupa bahwa matahari pun adalah rahmat. Berkait dengan
keinginannya, matahari mempercepat penguapan air laut menjadi awan yang
selanjutnya akan menjadi hujan. Tetapi manusia sangat pendek jangkauan akalnya,
tergesa-gesa dan mudah mengeluh.
Semoga Allah mengampuni kezaliman kita dan menggantikan dengan hati yang
bersyukur.
Masalah-masalah berkenaan dengan prasangka yang kurang baik terhadap Allah,
tidak hanya ketika berhadapan dengan apa yang oleh anggapan lahiriah sebagai
kesulitan. Keadaan-keadaan yang dirasa mudah, juga perlu dijaga agar kemudahan
yang diberikan oleh Allah tidak menjatuhkan kita ke dalam keadaan "mengabaikan"
rahmat Allah. Seolah-olah, kitalah yang menyebabkan kemudahan. Manusia memang
rawan terhadap sikap takabur, menyombongkan diri di hadapan orang lain dan di
hadapan dirinya sendiri.
Mudah-mudahan kita bisa menjaga persoalan-persoalan qalbiyyah selama proses
menuju pernikahan berlangsung. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menyelamatkan
Kado Pernikahan 58
kita dari urusan hati yang menjerumuskan. Semoga Allah mensucikan niat kita dalam
melangkah ke jenjang pernikahan. Saya sangat mengharap kepada Allah niat terbaik
saat melangsungkan akad-nikah. Mudah-mudahan Allah menjadikan pernikahan kita
barakah dan diridhai Allah hingga kelak kita menghadap-Nya di yaumil-akhir.
Mudah-mudahan Allah Swt. mengaruniai kita keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Inilah yang kita perlu jaga. Kita perlu menata hati ketika menjalani urusanurusan
selama proses berlangsung, termasuk ketika nanti mengadakan walimah.
Mudah-mudahan kebersahajaannya maupun kemeriahannya, kita laksanakan di atas
niat serta jalan yang diridhai Allah. Semoga barakah dunia akhirat. Allahumma amin.
Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.
Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon
Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat, ada yang membutuhkan waktu
lama. Mengenai waktu yang dibutuhkan selama proses, saya teringat kepada doa
keluar rumah yang artinya, "Dengan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan
agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan dan
jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga, tidak kepingin aku
untuk menyegerakan apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau
segerakan."
Ada satu catatan. Pernikahan termasuk salah satu dari tiga perkara yang
dianjurkan untuk disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya
adalah lebih baik. Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan
lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah, dan ridha Allah. Insya-Allah, pertolongan
Allah sangat dekat. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan, akan
dimudahkan dan dilapangkan. Sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap apa-apa
yang diserukan-Nya. Allah tidak zalim terhadap hamba-Nya, betapa pun Allah
Mutlak Kekuasaan-Nya. Kitalah yang sering zalim kepada Allah.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazh-zhalimin. Rabbana zhalamna
anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.
Ya Allah, ampunilah hamba atas kezaliman hamba sendiri.
Mempercepat proses pernikahan adalah lebih baik, tetapi hendaknya tidak
terjatuh pada sikap tergesa-gesa. Selama proses berlangsung, kita membutuhkan
informasi dan pembicaraan berkaitan dengan rencana pernikahan. Adakalanya, kita
mendapatkan informasi mengenai beberapa hal dari keluarga calon, perantara, atau
orang lain. Adakalanya, kita mendapatkan keterangan tentang beberapa hal dari calon
pendamping secara langsung.
Selama masa ini kita sangat peka terhadap berbagai informasi yang kita terima,
disebabkan oleh besarnya harapan untuk menyegerakan ataupun besarnya
Kado Pernikahan 59
kekhawatiran. Bisa juga oleh sebab-sebab lain yang bersifat qalbiyyah (hati). Kadangkadang,
orang mengalami deprivasi (kebutuhan yang sangat, seperti orang yang lapar)
yang menyebabkannya menjadi lebih peka terhadap jenis-jenis informasi tertentu.
Pada saat Anda sedang mengalami deprivasi makanan, Anda akan cepat mengira
orang yang sedang memukul-mukulkan besi kecil sebagai penjual nasi goreng sedang
lewat.
Masa menjelang nikah adalah masa yang sensitif. Apa yang berlangsung selama
masa ini, bagaimana memaknainya, mempengaruhi bagaimana kedua manusia itu
kelak akan menghayati pernikahannya. Proses antara pinangan dengan pelaksanaan
akad, hingga detik-detik akadnya, bisa menjernihkan niat-niat yang masih keruh
sehingga pada saat keduanya melakukan shalat berjama'ah segera setelah akad,
mereka banyak beristighfar, memohon pertolongan Allah untuk melimpahkan
kebarakahan dan menjauhkan dari keburukan, serta merasakan syukur yang dalam
karena telah terhindar dari ancaman maksiat. Tetapi, proses menuju pernikahan bisa
juga mengeruhkan niat-niat, sekalipun sekilas tampak mendapat pembenaran agama.
Padahal manusia mendapatkan hasil dari perbuatannya sesuai dengan apa yang
diniatkan.
Pada masa ini, di antara sekian banyak hal yang mungkin harus diselesaikan,
masalah lisan adalah yang paling peka dan paling rawan. Sebab, masalah
memperlakukan lisan ini mempengaruhi keseluruhan masalah lain, termasuk dalam
hubungan suami-istri setelah menikah. Bahkan termasuk bagaimana menghayati
hubungan intim suami-istri. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim. Saya
mohon perlindungan Allah dari kekejian lisan saya sendiri.
Ada dua hal yang perlu dijaga dalam memperlakukan lisan selama proses
berlangsung (juga sesudahnya). Pertama, menjaga lidah dalam mengucapkan katakata
(hifdhul-lisan). Kedua, menjaga persepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari
lisan orang lain.
Ada dua bagian manusia yang dapat menjaminkan surga atau menjerumuskan ke
neraka, yaitu lisan dan kemaluan. Nikah adalah proses menjaga kesucian kemaluan
kita dari tindakan yang tidak diridhai Allah (mudah-mudahan kita termasuk orang
yang menikah demi menjaga kesucian farji). Melalui nikah, apa yang sebelumnya
merupakan dosa besar, menjadi ibadah yang dimuliakan. Nikah adalah kesucian.
Tetapi, lisan dapat menjadikannya keruh.
Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'di r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
"Barangsiapa yang menjamin kepadaku akan menjaga apa yang ada di antara
kedua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kaki pahanya
(kemaluan) niscaya aku menjamin surga untuknya." (HR Bukhari).
Suatu ketika Uqbah bin Amir r.a. bertanya, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan
itu?"
Beliau menjawab, "Tahanlah lisanmu, kerasanlah di rumahmu, dan tangisilah
dosamu." (HR Tirmidzi).
Kado Pernikahan 60
Saya tidak bisa menjelaskan bab ini lebih lanjut. Cukuplah saya akhiri bab ini
dengan beberapa hadis. Mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni kesalahankesalahan
niat dalam menikah disebabkan oleh ketidaktahuan kita, dan
meluruskannya dengan menyemayamkan niat terbaik yang diridhai-Nya. Mudahmudahan
kelak kita akan mendapati pernikahan kita dan keturunan kita seluruhnya
barakah dan diridhai Allah 'Azza wa Jalla. Allahumma amin.
Al-Maqdisi mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
"Berikan penafsiran terbaik tentang apa yang engkau dengar, dan apa yang
diucapkan saudaramu, sampai engkau menghabiskan semua kemungkinan dalam
arah itu."
Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai hadis, "Jika engkau
mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi
yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya."
Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam berkata, "Carilah alasan untuknya
dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini."
Tabayyun (meminta penjelasan) adalah bentuk lain upaya untuk mendapatkan
interpretasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya. Bisa
jadi kita mendengar langsung dengan orang yang berbicara, tetapi kita menangkapnya
tidak sebagaimana dimaksud. Di sinilah tabayyun (mengecek kebenaran informasi)
diperlukan.
Rasulullah Saw. juga diriwayatkan pernah bersabda,
"Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma'ah, yang jika orang
lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan
tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orangorang
baik, maka engkau juga baik, dan jika mereka jelek, hendaklah engkau
menjauhinya keburukan-keburukan mereka." (HR Tirmidzi).
Apakah imma'ah itu? Kita minta Muhammad Hashim Kamali, seorang guru
besar ilmu fiqih pada International Islamic University, Malaysia, untuk menjelaskan.
Menurut Muhammad Hashim Kamali, imma'ah adalah, "Memuji atau mencela orang
lain tanpa alasan, tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal
itu."
Kita imma'ah ketika kita dengan cepat menyimpulkan ucapan orang lain hanya
dari mendengar selintas. Kita juga imma'ah kalau kita segera memberikan pujian
karena mendengar kabar sekedarnya mengenai dia. Apalagi kalau sampai
menjatuhkan kesimpulan dengan sangat yakin tentang seseorang hanya dari rumor --
entah, apakah masih termasuk imma'ah atau bukan.
Alhasil, dengan kriteria seperti itu, rasanya hampir setiap hari kita terperosok ke
dalam imma'ah. Kadang-kadang tersadar sesudah lewat, tetapi melakukan kesalahan
lagi beberapa menit sesudah sadar.
Kado Pernikahan 61
Saya mohon ampunan kepada Allah atas berbagai perbuatan imma'ah yang saya
lakukan karena ketidaktahuan saya atau karena kecerobohan saya. Saya meminta
maaf kepada Anda jika saya pernah gegabah menyimpulkan ucapan Anda, padahal
saya belum memeriksanya.
Apapun, kita mengharap pertolongan Allah semoga kemudahan dalam proses
menumbuhkan kehangatan dan keakraban setelah menikah. Adapun kesulitan dalam
proses, melahirkan kesetiaan, kedalaman cinta, dan kelurusan niat setelah
melaksanakan akad nikah. Bagi mereka ketenteraman, mawaddah wa rahmah hingga
hari kiamat kelak. Allahumma amin.
Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk.

Kado Pernikahan Bab 3

Kado Pernikahan 45
Bab 3
Mengenai
Sumber Informasi dan
Perantara
uatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ingin menilai
seorang laki-laki yang datang kepada beliau memohon agar diberi jabatan
dalam pemerintahan. Umar r.a. berkata kepadanya, "Bawa orang yang
mengenalmu ke sini!"
Lelaki itu pulang dan kembali membawa seorang teman. Lalu Umar r.a. bertanya
kepada orang itu, "Apakah kau kenal orang ini?"
"Ya."
"Apakah kau tetangganya, dan tahu keadaan yang sebenarnya?" Umar r.a.
bertanya.
"Tidak," kata orang itu.
"Apakah kau pernah menemaninya dalam perjalanan, sehingga kau tahu pasti
perangai dan akhlaknya..."
"Tidak."
"Apakah kau pernah berhubungan masalah uang dengan orang itu, sehingga kau
tahu bahwa dia sangat takut memakan barang yang haram?"
"Tidak".
"Apakah kau hanya mengenalnya di masjid ketika dia berdiri dan duduk di
masjid?"
"Ya".
"Enyahlah kau dari sini. Kau tidak mengenalnya...!"
Lalu Umar r.a. menoleh kepada laki-laki yang datang kepadanya itu dan berkata,
"Bawa lagi orang yang benar-benar mengenalmu ke sini."
S
Kado Pernikahan 46
Dalam riwayat lain dikatakan, ada seseorang berkata kepada Amirul Mukminin
Umar r.a. bahwa di fulan itu seorang yang jujur. Maka Amirul Mukminin bertanya,
"Apakah kau pernah menempuh perjalanan bersamanya?"
"Tidak".
"Apakah pernah terjadi permusuhan antara kau dan dia?" tanya Umar bin
Khaththab.
"Tidak."
"Apakah kau pernah memberinya amanat?"
"Tidak."
"Kalau begitu," kata Umar r.a., "kau tidak mengenalnya selain melihatnya
mengangkat dan menundukkan kepalanya di masjid."
Kisah percakapan Umar bin Khaththab ini saya angkat dari buku Memilih Jodoh
dan Tatacara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) karya Husein Muhammad Yusuf
ketika membicarakan tema cara memilih suami yang baik.
Dalam dua riwayat tersebut, Umar memeriksa apakah orang yang dihadapkan
kepadanya memenuhi syarat untuk menjadi sumber informasi mengenai seseorang.
Dalam proses pernikahan, pihak calon pengantin perempuan seringkali membutuhkan
sumber informasi. Kadang, sumber informasi ini sekaligus menjadi perantara
(comblang) yang mengusahakan pertemuan dua pihak menjadi satu keluarga. Sering
juga, calon pengantin membutuhkan informasi dari berbagai sumber informasi di luar
perantara.
Selama proses menuju pernikahan, orang membutuhkan sumber informasi.
Pertama, untuk memperoleh keterangan mengenai aspek-aspek pribadi calon
suami/istri. Kedua, orang yang membutuhkan sumber informasi, bisa untuk
memperoleh keterangan tentang persoalan-persoalan temporer (sesaat) dan
situasional. Tentang persoalan kedua ini, insya-Allah kita akan membahasnya pada
bab berikutnya Selama Proses Berlangsung, segera setelah bab ini selesai.
Memperantarai dua orang untuk menikah mendapat kedudukan mulia dalam
Islam. Membantu dua orang yang berkeinginan untuk menikah, sehingga Allah
mempertemukan mereka sebagai suami istri yang sah di hadapan Allah, insya-Allah
lebih dekat kepada ridha Allah. Ada berbagai keterangan mengenai keutamaan
menjadi perantara nikah, insya-Allah termasuk menjadi sumber informasi bagi mereka
yang mau menikah. Tetapi bukan bagian saya untuk membahas masalah ini,
mengingat belum adanya ilmu pada saya tentang ini. Selain itu, saya belum tepat
untuk membicarakan masalah ini. Wallahu A'lam bishawab wastaghfirullahal 'adzim.
Cukuplah saya kutipkan nasehat Sayyidinina 'Ali bin Abi Thalib karamallahu
wajhahu. Beliau mengatakan, "Sebaik-baik syafaat adalah memperantarai dua orang
untuk menikah, di mana dengan itu Allah mengumpulkan mereka berdua."
Selanjutnya, saya ingin membahas beberapa hal penting bagi mereka yang
meniatkan diri untuk memperantarai pernikahan. Demikian juga bagi sumber
informasi yang dimintai keterangan oleh salah satu pihak calon pengantin.
Pembahasan ini saya harapkan juga bisa bermanfaat bagi mereka yang akan menikah,
Kado Pernikahan 47
sehingga mereka memperoleh maslahat dan barakah yang besar dalam pernikahan.
Mudah-mudahan Allah 'Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada saya tentang ini,
memperjalankan saya dengan kekuasaan-Nya untuk menepati petunjuk-Nya, dan
menjauhkan saya dari kekeliruan-kekeliruan saya sendiri.
Pertama,
Memberi Informasi Objektif
Perantara maupun sumber informasi seyogyanya memberikan informasi yang
objektif. Ia memberi keterangan yang bersifat informatif sehingga dapat bermanfaat
bagi calon pengantin maupun keluarganya untuk menilai calon pasangannya.
Adakalanya, sebagian informasi tidak informatif, tidak bernilai sebagai
informasi. Justru, kadang malah menimbulkan penilaian (persepsi) yang salah tentang
calonnya. Tidak informatifnya keterangan yang diberikan, kadang karena kurangnya
deskripsi (penggambaran) mengenai informasi yang abstrak.
Kalau Anda mengatakan "dia wanita yang baik" ketika ada seseorang yang
memiliki "maksud" bertanya, maka perlu Anda tunjukkan perilaku-perilaku dan sikap
yang membuat Anda menyimpulkan dia sebagai wanita yang baik. Tanpa penjelasan,
peminang bisa salah persepsi sehingga ia menemui kekecewaan-kekecewaan yang
beruntun setelah menikah. Padahal, andaikata ia memperoleh keterangan yang
objektif dan informatif, insya-Allah dia justru mendapati istrinya sebagai wanita yang
menyejukkan, sekalipun ada kekurangan-kekurangan.
Kedua,
Tidak Persuasif
Kita sebaiknya tidak memberi keterangan yang bersifat persuasif (membujuk).
Keterangan yang persuasif, apalagi jika sengaja mempersuasi agar kedua orang itu
berhasil dipertemukan, dapat memunculkan kondisi psikis yang tidak
menguntungkan.
Pertama, informasi persuasif (bersifat membujuk, promosi) dapat memunculkan
harapan (atau malah angan-angan) yang terlalu tinggi mengenai calonnya. Ini
menjadikannya kurang peka terhadap kebaikan-kebaikan pasangannya kelak setelah
menikah, karena secara tak sadar selalu membandingkan dengan harapan semula
sebelum menikah. Ia lebih peka terhadap kekurangan, meskipun sedikit, sementara
kebaikannya sebenarnya banyak.
Keadaan ini mudah menimbulkan kekecewaan atau bahkan kecenderungan untuk
melakukan penolakan psikis terhadap pasangannya. Padahal, semakin tidak bisa
mensyukuri kebaikan pasangannya, semakin besar penderitaan psikisnya. Sementara
Kado Pernikahan 48
untuk mengambil jarak dari masalah, lebih sulit karena sudah mengalami distorsi
kognitif.
Sebagian informasi persuasif ini berasal dari buku-buku yang lebih banyak
menjanjikan keindahan yang akan didapatkan ketika menikah, tetapi kurang banyak
membahas pada bagaimana keduanya harus memperjuangkan keluarganya. Ketiadaan
misi dan lebih banyak persuasi, menumbuhkan harapan yang tidak seimbang.
Kedua, informasi yang persuasif mengarahkan harapan orang tentang keindahankeindahan
yang akan diberikan pasangan hidupnya. Bukan apa yang kelak perlu ia
lakukan kepada pasangannya. Ini menjadikannya mudah merasa kurang terhadap apa
yang telah diberikan oleh pasangannya. Bahkan, ketika pasangannya telah banyak
memberikan keindahan-keindahan, kehangatan dan penghormatan, ia tidak
merasakannya sebagai kebaikan yang layak disyukuri. Ia menerimanya sebagai
sekedar kewajaran yang memang sudah seharusnya ia terima. Tuntutan terhadap
pasangan lebih mudah muncul dalam dirinya. Susahnya, tuntutan itu sering tidak
dinyatakannya karena ia merasa bahwa mengenai hal itu "seharusnya dia sudah
mengerti".
K.H. Jalaluddin Rakhmat menceritakan, bila sepasang suami-isteri saling
mencintai, lama kelamaan wajahnya akan saling mirip satu dengan yang lain. Terjadi
perubahan fisiologis di antara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis.
Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dari perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti.
Wallahu A'lam. Tetapi ada yang patut dicatat dari cerita Kang Jalal. Suami-istri
yang saling mencintai akan saling menemukan kesamaan-kesamaan. Kalau mereka
menjumpai perbedaan, insya-Allah mereka akan berusaha mempersamakan atau
menoleransi perbedaan. Ada sebuah keluarga yang setiap membuat sayur, harus selalu
dipisahkan dua ketika suami di rumah. Istrinya suka masakan yang manis, sedang
suaminya suka asin. Tetapi keduanya hidup harmonis.
Tetapi ketika harapan terhadap pasangan terlalu tinggi, ia akan peka terhadap
perbedaan-perbedaan. Sementara perbedaan yang ada melahirkan kesenjangan psikis
maupun komunikasi.
Sesungguhnya, kalau kita selalu mencari perbedaan pada diri pasangan sebagai
kekurangan, maka tidak ada orang yang sama persis dengan kita kecuali dengan diri
kita sendiri. Tetapi, kalau kita mencari kesamaan-kesamaan sebagai kebaikan atau
untuk introspeksi, insya-Allah kita akan menjumpai kesamaan pada pasangan kita
sebanyak yang kita cari. Wallahua'lam wallahul musta'an.
Ketiga, orang justru menjadi takut menikah karena membandingkan persepsinya
(penilaiannya) mengenai calon dengan keadaan dirinya. Seorang ikhwan bisa bisa
merasa minder dan "ngeri", karena menganggap akhwat yang ia harapkan terlalu
tinggi derajatnya dan "hampir-hampir mencapai kesempurnaan". Alhasil, ia tidak
berani meminang atau menerima pinangan justru karena pengaruh informasi yang
persuasif. Padahal, keadaan yang sesungguhnya tidak demikian.
Kado Pernikahan 49
Dalam kasus ini, informasi persuasif justru bisa mendekatkan kepada madharat.
Allahua'lam wastaghfirullahal 'adzim.
Ketiga,
Memberi Informasi Menurut Apa yang Diketahui
Nilai keutamaan orang yang memperantarai pernikahan atau pun yang menjadi
sumber informasi, insya-Allah terletak pada usaha untuk memberi keterangan yang
tepat. Bukan pada banyaknya informasi yang dapat ia sampaikan. Seyogyanya, kita
menjauhkan diri dari memberi informasi yang bersifat qila wa qila (katanya sih
katanya, kononnya konon). Informasi mengenai hal-hal fisik, seharusnya ia ketahui
dari melihat langsung.
Bagi Anda yang ingin mengetahui keadaan fisik calon, masalah ini perlu
mendapat perhatian. Wajah dan telapak tangan, dapat Anda lihat sendiri. Tetapi
mengenai bagian fisik lainnya, Anda perlu meminta orang lain jika Anda ingin
mengetahuinya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah Saw.
Imam Ahmad, Imam Thabrani, Imam Hakim, dan Imam Baihaqi pernah
meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik r.a. Suatu ketika, Rasulullah Saw.
pernah mengutus Ummu Sulaim r.a. kepada seorang wanita (yang akan dilamar).
Rasulullah mengatakan, "Perhatikanlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau
lehernya."
Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Saw. berkata, "Ciumlah bau gigi
(depannya) di sepanjang lebar mulutnya."
Keempat,
Lebih Melihat Pada Usaha
Memperantarai dua orang untuk menikah, menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib
karamallahu wajhahu merupakan sebaik-baik syafaat. Nilai usaha orang yang
memperantarai, insya-Allah terletak pada kesungguhannya dalam mengusahakan.
Berhasil atau tidak, baginya pahala orang menikahkan dua orang saudara sesama
Muslim.
Karena itu, seorang perantara hendaknya lebih memperhatikan kemaslahatan
dalam mengusahakan, bukan berorientasi pada keberhasilan mempertemukan.
Kegagalan mempertemukan insya-Allah bukan keburukan, jika Anda mengusahakan
pada kemaslahatan. Kesudahan bagi keduanya insya-Allah baik.
Sebaliknya, keberhasilan mempertemukan tetapi kurang memperhatikan
kemaslahatan-kemaslahatan, terma-suk dalam memberi informasi, bisa justru
menghasilkan madharat. Mudah-mudahan Allah Swt. memasukkan kita ke dalam
Kado Pernikahan 50
golongan orang-orang yang selamat dan bahagia. Bukan golongan orang-orang yang
tersesat dan menderita.
Kelima,
Moderat dan Tidak Menyudutkan
Adakalanya orang yang diperantarai menghadapi beberapa pilihan. Menentukan
pilihan untuk masalah yang menyangkut kehidupan selama di dunia dan sampai
akhirat ini, bukan perkara mudah. Butuh kejernihan agar tidak terombang-ambing
oleh desakan hawa nafsu yang jahat. Butuh kejernihan, agar hati semakin berih dan
lurus ketika mengambil keputusan. Tidak justru merusak niat. Padahal, niat adalah
masalah mendasar dalam mengambil keputusan.
Seorang perantara yang menjumpai keadaan seperti ini, hendaknya berusaha
untuk bersikap moderat. Sikap moderat (al-wasthiyyah) insya-Allah lebih dekat
kepada kemaslahatan dan ridha Allah. Sekalipun ia berdiri untuk memperantarai salah
satu orang yang sedang dipertimban-kan, ia sebaiknya bersikap netral.
Kecenderungan hati barangkali sulit dihapuskan. Tetapi, insya-Allah akan baik kalau
ia mencoba memilih berdiri di tengah-tengah dalam ucapan. Ini akan membuahkan
ketenangan. Dan ketenangan lebih dekat kepada kejernihan.
Adakalanya sebagian orang bersikap kurang moderat. Ia cenderung mengarahkan
pikiran orang yang diperantarai, sekalipun barangkali tidak disadari. Kadang-kadang
bahkan mengarahkan kepada "sikap negatif" yang memojokkan, sehingga orang yang
diperantarai merasa tertekan. Merasa berada pada situasi yang riskan. Atau,
menyebabkan orang yang diperantarai tertekan secara emosional. Padahal, dalam
saat-saat seperti itu, yang ia butuhkan adalah kejernihan dan ketenangan agar lebih
dekat kepada tawakal dan ridha Allah. Pada saat-saat seperti ini orang yang hendak
menikah sangat perlu menjaga prasangka dan keyakinannya terhadap Allah Swt.
Moderat lebih dekat dengan keseimbangan. Saya pernah mendengar seorang
perantara memberikan pertanyaan yang bernada memojokkan, "Apa sudah ada tandatanda
penolakan dari pihak sana?"
Pertanyaan yang semacam ini juga termasuk tidak netral dan bisa menyebabkan
ketidakamanan secara emosional, "Bagaimana, apa sudah ada kecenderungan ke
pihak yang di sini? Barangkali sudah ada kepastian kalau tidak jadi."
Pertanyaan-pertanyaan sejenis, juga keterangan-keterangan lain yang tidak
berimbang, membawa orang yang diperantarai kepada situasi yang tidak
mengenakkan emosi. Keputusan yang hampir jadi sesuai yang dikehendaki perantara,
bisa justru mentah kembali karena pertanyaan atau pun pernyataan yang menyudutkan
secara emosional.
Kado Pernikahan 51
Saya ingat kisah Sayyidina 'Ali karamallahu wajhahu. Semua musuhnya tahu
kalau Sayyidina 'Ali sudah mengangkat pedang, sulit mengelak dari tebasannya ketika
berhadapan di medan peperangan.
Suatu ketika, seorang musuh berada pada situasi terdesak. Ia berhadapan dengan
Sayyidina 'Ali. Merasa terdesak dan tak ada pilihan lain, ia meludahi Sayyidina 'Ali.
Pedang yang hampir menebas, ternyata tidak jadi menghilangkan nyawanya.
Mengapa Sayyidina 'Ali mengurungkan tebasan pedangnya? Beliau tidak ingin
mengayunkan pedangnya karena hati yang terusik oleh ludah.
Sikap seorang ustadz berikut agaknya bisa dicontoh. Ketika ada orang
mengajukan masalahnya, ia menunjukkan sisi baik dari keduanya secara berimbang.
Kekurangan pada salah satu pihak, ditunjukkan sebagai kesempatan untuk
memperoleh kemuliaan akhirat, dan diimbangi dengan kelebihan yang mungkin ada.
Sementara kekurangan pihak lainnya, dijelaskan dengan cara yang sama secara
seimbang dan adil.
Keenam,
Memotivasi Jika Mampu
Sebagian perantara maupun sumber informasi, selain memberikan keterangan
yang diperlukan juga memberi motivasi. Ini baik, agar orang bersemangat dan tetap
optimis menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada. Jika orang yang diperantarai
masih ragu-ragu, motivasi dapat membuatnya yakin dan mantap untuk segera
melangkah ke jenjang pernikahan. Ia dapat memikirkan kesulitan-kesulitan yang ada
secara tenang, sehingga Allah memudahkannya keluar dari masalah. Insya-Allah.
Meskipun demikian, seorang perantara maupun sumber informasi perlu berhatihati
dalam memberikan motivasi (targhiib). Syukur, jika motivasi yang diberikan
lebih dapat menumbuhkan keyakinan terhadap pertolongan Allah. Sesungguhnya
Allah itu dekat dan sangat luas karunia-Nya. Juga berkenaan dengan firman Allah
Swt, "Fa idza 'azzamta, fa tawakkal 'alaLlah." Maka, jika kamu telah membulatkan
tekad, bertawakkallah kepada Allah.
Jika Anda dapat memotivasi orang ke arah yang demikian, insya-Allah kelak
Anda akan mendapatkan syafa'at dan keutamaan di akhirat. Sementara itu, di mata
manusia sikap demikian merupakan kemuliaan.
Akan tetapi, jika Anda memotivasi dengan menonjolkan aspek-aspek pada diri
calon yang mungkin menjadikannya lebih terpengaruh, saya khawatir kesudahannya
malah tidak baik. Sikap ini rawan terhadap impression management (pengelolaan
kesan). Dan impression management mendekati manipulasi informasi, tidak
menunjukkan sebagian informasi untuk lebih menonjolkan informasi yang dianggap
penting. Ini menimbulkan kesan dan harapan. Kalau tidak sesuai dengan yang
diangankan, dapat menimbulkan kekecewaan di belakang hari.
Kado Pernikahan 52
Menceritakan aspek-aspek yang ada pada diri calon, boleh dilakukan. Tetapi
hendaknya tetap memperhatikan, agar keterangan tersebut tidak mendorong
munculnya persepsi yang keliru dan harapan yang tidak tepat. Bersyukur, jika sumber
informasi atau perantara dapat memberikan keterangan mengenai diri calon sekaligus
mengarahkan pada kelurusan niat. Ada ladang amal shalih di dalamnya.
Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita
Jika seorang wanita bermaksud menawarkan diri dan meminta bantuan kepada
Anda untuk memperantarai, ada persoalan yang perlu mendapat perhatian. Perantara
adalah penghubung antara maksud mulia seorang wanita dengan laki-laki yang
diharapkan. Sekaligus, ia menjadi orang pertama yang memberi keterangan kepada
pihak laki-laki mengenai wanita yang mempunyai maksud.
Perantara perlu berhati-hati dalam mengemukakan alasan wanita tersebut
memilih laki-laki yang dimaksudkan. Ia perlu menjaga agar sikap dan keterangannya,
tidak menimbulkan pandangan yang keliru dari laki-laki yang dimaksud terhadap
wanita yang menginginkannya. Ini terutama berkait dengan wanita itu, sekaligus nanti
pengaruh mendasarnya pada niat laki-laki itu ketika mempertimbangkan.
Niat dan harapan, sebagaimana kita bahas di bagian awal bab ini, sangat
mempengaruhi bagaimana orang menjalani kehidupannya setelah berumahtangga.
Seorang perantara sebaiknya berusaha untuk tidak menonjolkan aspek fisik,
terutama kecantikan dan kekayaan, dengan harapan agar laki-laki yang dimaksudkan
lebih terdorong. Kalaupun wanita itu bermaksud mempercayakan hartanya kepada
suaminya, perantara sebaiknya berusaha mengarahkan kepada kelurusan niat. Kisah
Rabi'ah binti Ismail Asy-Syamiyah, menarik untuk disimak.
Selanjutnya, pembicaraan ini saya cukupkan dengan dua hadis Nabi Saw.
Mudah-mudahan dapat menjadi renungan. Mudah-mudahan Allah memberikan
petunjuk.
Imam Thabrani meriwayatkan hadis dari Anas bin Ma-lik r.a. yang menyebutkan
bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya
(jabatannya), maka Allah hanya akan menambahkan kehinaan."
"Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan
menambah kecuali kefakirannya."
"Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasabnya (kemuliaannya), maka
Allah hanya akan menambahkannya kerendahan."
"Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita ka-rena ingin menutupi
(kehormatan) matanya, membentengi farjinya, dan mempererat tali silaturrahmi,
maka Allah akan memberikan barakah-Nya kepada dia (suami) dan istrinya (dalam
kehidupan keluarganya)."
Kado Pernikahan 53
Ada hadis senada yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam An-Nasa'i.
Di samping itu, terdapat hadis-hadis lain yang memberikan peringatan dalam soal ini.
Sebagai penutup, marilah kita simak hadis riwayat Imam Abu Daud dan At-Tirmidzi
berikut.
Rasulullah Saw. bersabda, "Janganlah kalian menikahi wanita karena
kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran.
"Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi
kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan.
"Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita
yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya
dan cantik yang tidak beragama)".
Begitu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemuliaan kepada mereka yang
telah memperantarai dengan bijak dan adil. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita
semua. Allahumma amin.
'Alaa kulli hal, semoga Allah memberi kekuatan dan kejernihan kepada kita jika
ada yang membutuhkan informasi dari apa yang kita ketahui tentang seseorang atau
ketika ada yang harus kita perantarai.
Sungguh, tidak mudah menjaga kejernihan hati. Tetapi, juga tidak mudah untuk
melepaskan diri dari ghurur (keadaan terkelabui); menyangka berhati-hati, tetapi
sesungguhnya bukan. Sebagaimana juga tidak mudah melepaskan diri dari keburukan,
meski kita telah tahu ada penyakit hati yang bersarang.
Hanya Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menolong kita. Dan atas segala
kesalahan saya pada Anda, maafkan saya.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes